02 Maret 2009

Dialog antara Penduduk Sorga dan Neraka

Senin,02 Maret 2009
Oleh: Sjarwani Sjam

Alquran selain sebagai pedoman hidup seorang Muslim, juga banyak memberitahukan tentang pemberitaan hal gaib yang kelak terjadi, baik pada hari kiamat maupun tempat di sorga atau neraka. Isi kandungan Alquran inilah yang menjadi keyakinan atau keimanan, yang perlu ditabburkan atau dipikirkan.

Bukan sekadar Alquran itu menjadi pedoman hidup atau diimani begitu saja, tapi yang lebih penting penghayatan dengan merenung semua sifat pemberitaan ‘tandzir’ (peringatan atau ancaman) dan ‘tabsyir’ (kabar gembira dengan penuh janji menyenangkan).

Dalam surat al-Muddatsir ayat 40-47, ada sama-sama penduduk sorga bercakap-cakap (dialog). Karena dahulunya kawan akrab di dunia, dan bahkan kenal baik. Setelah semua orang meninggal (karena hari kiamat terjadi), baik orang yang berada di dunia maupun yang berada di alam barzah.

Semua setelah digiring kumpul di Padang Mahsyar dan diperhitungkan amal baik dan buruk, masing-masing menerima buku amalan tersebut. Arah kehidupan selanjutnya dapat terbaca dalam buku amalan tersebut.

Kiranya seorang tadi bernasib buruk (sesuai amalnya), dan yang lain bernasib baik. Masing-masing menerima kehidupan berbeda.

Yang bernasib buruk itu dimasukkan ke neraka dan yang bernasib baik dimasukkan ke sorga. Rupanya yang bernasib baik itu teringat dengan kawan lamanya waktu berada di dunia, tapi sayang tidak pernah bertemu.

Lama sudah berlalu entah berapa lama hari atau tahun akhirat, tumben tiba-tiba bersua. Orang yang bernasib baik berkata:

Mengapa kamu masuk berada di saqar (nama neraka)?

Jawab orang bernasib buruk (mujrim): Dan kami tidak pernah termasuk orang yang selalu mengerjakan salat, tidak pernah memberi makan fakir miskin. Dan kami membicarakan yang bathil, bersama dengan pembicara(nya). Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan hingga datang kepada kami keyakinan (kematian).

Salat merupakan ibadah wajib bagi atau dalam seluruh agama. Ia merupakan pengakuan tentang keagungan Allah SWT dan kewajaran-Nya untuk disembah dan dimohon pertolongan atau bantuan-Nya. Dengan demikian, pengakuan hamba Allah yang tidak salat mencerminkan buruknya hubungan hamba atau manusia dengan Allah SWT.

Demikian pula tidak pernah memberi makan orang miskin. Dia tidak peka kehidupan orang lain yang perlu uluran tangan untuk membantu sesamanya. Tidak ada keperdulian sosial kemasyarakatan. Walau di sini dimaksudkan adalah membayar zakat atau keharusan bersedekah kepada yang berhajat. Kalau demikian dapat dikatakan buruknya hubungan antara sesama manusia.

Demikian juga keadaan seseorang yang melecehkan agama, ia berbicara tanpa dasar. Pembicaraan bathil dan sia-sia (tidak berguna), menggambarkan sikap meremehkan ajaran agama atau bersikap tidak acuh terhadap tuntunannya.

Kematian merupakan sesuatu yang bersifat pasti, ajaran agama yang harus dipercayai akan diketahui dan terungkap secara pasti setelah datangnya kematian. Apalagi tidak mempercayai datangnya atau keniscayaan hari kiamat sebagai hari pembalasan.

Untung saja masih ada secercah keimanan dalam hatinya, maksudnya adalah keyakinan beriman kepada Allah SWT yang membawa dia masuk ke dalam sorga, setelah lebih dahulu masuk ke neraka akibat perbuatan jahat atau buruk atau durhaka, tidak menjunjung perintah Allah dan rasulNya.

Kalau dia tidak beriman kepada Allah atau kafir, maka dia menjadi penghuni neraka selamanya.

Kufur Nikmat
Dalam Alquran pada surat al-A’raf ayat 44-50, kiranya dua tempat berbeda (dalam sorga dan neraka), juga berkomunikasi pada masing-masing seperti halnya di dunia ini.

Dikira seperti di dunia dahulu dapat saling tolong-menolong satu sama lain. Nah, bagaimana pula peristiwanya, mari ikuti keterangan tersebut.

Suatu kali penduduk di neraka itu berseru kepada penduduk sorga, yang menjalani siksa. Karena penduduk sorga selalu mendapat kenikmatan yang luar biasa, seperti yang dijanjikan kepada mereka yang beriman dan beramal saleh dahulu di dunia, sekarang menjadi kenyataan.

Rupanya hasrat ingin tahu, apakah juga penduduk neraka demikian. Walaupun penduduk neraka memberikan jawaban ‘ya’, tapi yang dimaksud pengakuannya adalah sanksi yang diterimanya, karena kedurhakaan di kala hidup di dunia dahulu.

Bahkan ada yang berseru, itu sebenarnya laknat Allah terhadap orang yang berlaku zalim. Orang yang durhaka dan berdosa, apalagi dosa-dosa yang tidak terampunkan waktu hidup di dunia tadi. Tidak pernah insaf pekerjaan maksiatnya untuk bertaubat.

Sampai-sampai penduduk neraka tadi mohon pertolongan kepada penduduk sorga, agar segala nikmat air dan apa saja yang diberikan berupa rezeki lainnya diberikan kepada penduduk neraka tadi.

Jawab orang penduduk sorga, bahwa karunia rezeki tersebut dilarang (baik air atau rezeki lainnya) bagi penduduk neraka. Allah tidak memperkenankan bantuan itu terhadap orang kafir yang ingkar.

Betapa hausnya sampai air yang diminta oleh penduduk neraka, begitu pula makanan lain. Karena makanan di neraka serba tidak enak, bahkan buah saja berduri bagaimana perut yang mencerna. Ini adalah lukisan siksa yang tidak kunjung berakhir.

Kafir di sini termasuk orang yang tidak beriman, juga termasuk kafir nikmat.

Kafir nikmat juga bisa ada pada orang Islam, karena kalau toh mau menghitung nikmat Allah walaupun tidak dapat menghitung: nikmat wujud (ada), nikmat hidup, nikmat beriman, nikmat kesehatan, nikmat melihat, mendengar, nikmat makan dan minum, nikmat bernafas, nikmat berharta, berumah tangga dan beristri dan lain sebagainya yang tidak dapat disebut satu-persatu.

Itu hanya sekadar contoh, kalau toh mau menghitung nikmat. Bahkan nikmat itu sesaat pun tidak terhenti. Pikirkan dan renungkan.

Kalau terfokus perhatian tentang nikmat ini, khusus karunia bagi orang yang beriman, kiranya hal ini pun terkena dan menimpa juga di kalangan kita.

Khusus nikmat wujud, iman, hidup, bernafas, sehat, fisik yang sempurna, harta, rumah tempat tinggal, istri, anak dan lain sebagainya. Semua itu tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, maka orang itu akan mempertanggung jawabkan penuh risiko yang akan dihadapinya.

Misal, sudah wujud, iman, sehat, memiliki fisik yang sempurna, tapi sayang tidak salat, kalau toh salat tidak berjamaah. Kemana membawa nikmat yang selama ini diperolehnya?

Berharta, berumah, ada sumber penghasilan, fisik sempurna lagi sehat badan, tapi sayang tidak mau berzakat atau bersadakah, malas salat. Seolah-olah apa yang diraihnya adalah hasil jerih payah dan usahanya sendiri. Tanpa ada kontribusi dari pihak lain. Orang ini mempertanggung jawabkan nikmat ini terancam siksa.

Bukankah ada sepenggal ayat Alquran yang sering dibaca: “Tsumma Latusalunnaka Yauma Idzin ‘Anin Na’iem” artinya: Kemudian sungguh ditanya (dimintai pertanggung jawaban) engkau pada hari (kiamat) tentang nikmat. (QS at-Takatsur: 8).

Di lain ayat 11 surat adl-Dluha berbunyi demikian: “Wa Ammaa Bini’mati Rabbika Fa Haddits”, artinya: Adapun dengan nikmat Tuhanmu, maka (hendaklah engkau) sebut-sebut.

Cara menyebut nikmat, bersyukur atau mempergunakan nikmat itu sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar